Selasa, 19 Juli 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN PNEUMONIA

BAB I
PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan padanan istilah : Acute Respiratory Infections (ARI).
ISPA mengandung 3 unsur, yaitu : Infeksi, Saluran pernafasan dan Akut.
Batasan-batasan masing-masing unsur :
1.    Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak, sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2.    Saluran pernafasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura à ISPS à secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan.
3.    Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari (batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun ISPA dapat lebih 14 hari).
Pneumonia adalah merupakan infeksi akut yang secara anatomi mengenai lobus paru.
Pneumonia adalah radang parenkim paru yang dapat disebabkan oleh mikroorganisme dan kadang non infeksi.
Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang
umumnya disebabkan oleh agent infeksi.
Pneumonia adalah suatu peradangan alveoli atau pada parenchyma paru yang terjadi pada anak. (Suriani, 2006).
Pneumonia pada anak seringkali bersamaan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus dan disebut bronchopneumonia.
Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus (bronchopneumonia). Dalam pelaksanaan program P2 ISPA semua bentuk pneumonia (baik pneumonia maupun bronchopneumonia) disebut Pneumonia.
Bronkhopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder.
Keadaan yang dapat menyebabkan bronchopneumonia adalah pertusis, morbili, penyakit lain yang disertai dengan infeksi saluran pernafasan atas, gizi buruk, paska bedah atau kondisi terminal.
Dalam keperawatan pneumonia atau bronkhopneumonia pada anak(bayi) termasuk masalah yang serius dan mengancam keselamatan jiwa. Karena sistem pernafasan pada bayi belum matur. Oleh karena itu, perawat maupun tim kesehatan lain harus mampu mengidentifikasi dan mengatasi masalah yang ada pada anak (bayi) yang menderita pnuemonia.

B.  TUJUAN PENULISAN
1.    Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa memahami tentang konsep dasar asuahan keperawatan pada anak dengan pneumonia
2.    Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu memahami konsep medis tentang pneumonia.
Mahasiswa mampu menetapkan diagnosa keperawatan pada anak dengan pneumonia.
Mahasiswa mampu merencanakan intervensi keperawatan pada anak dengan pneumonia.

C.  SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I PENDAHULUAN meliputi Latar Belakang, Tujuan Penulisan dan Sistematika Penulisan.
BAB II KONSEP DASAR MEDIS meliputi Definisi, Etiologi, Klasifikasi, Cara Penularan, Patofisiologi, Mnifestasi Klinis, Pemeriksaan Penunjang, Komplikasi dan Penatalaksanaan.
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN meliputi Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Intervesi dan Implementasi Dan Evaluasi.



BAB II
KONSEP DASAR MEDIS


A.  DEFINISI
Pneumonia adalah merupakan infeksi akut yang secara anatomi mengenai lobus paru.
Pneumonia adalah suatu peradangan alveoli atau pada parenchyma paru yang terjadi pada anak. (Suriani, 2006)
Pneumonia ialah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing yang mengensi jaringan paru (alveoli). (DEPKES. 2006)
Pneumonia adalah radang parenkim paru yang dapat disebabkan oleh mikroorganisme dan kadang non infeksi.
Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang
umumnya disebabkan oleh agent infeksi.
Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Axton & Fugate, 1993).
Pneumonia adalah keradangan dari parenkim paru di mana asinus terisi dengan cairan radang dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke dalam dinding alveoli dan rongga intestinum (Amin & Al sagaff, 1989).
Pneumonia adalah Suatu radang paru-paru yang ditandai oleh adanya konsolidasi exudat yang mengisi alveoli dan bronchiolus ( Axton ).

B.  ETIOLOGI
Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti :
1.    Virus pernapasan yang paling sering lazim yaitu micoplasma pneumonia yang terjadi pada usia beberapa tahun pertama dan anak sekolah dan anak yang lebih tua.
2.    Bakteri Streptococcus pneumoniae, S.pyogenes, dan Staphylococcus aureus yang lazim terjadi pada anak normal.
3.    Haemophilus influenzae tipe b menyebabkan pneumonia bakteri pada anak muda, dan kondisi akan jauh berkurang dengan penggunaan vaksin efek rutin.
4.    Virus penyebab pneumonia yang paling lazim adalah virus sinsitial pernapasan, parainfluenzae, influenzae dan adenovirus.
5.    Virus non respirasik, bakteri enterik gram negatif, mikobakteria, coxiella, pneumocytis carinii dan sejumlah jamur.
6.    Aspirasi makanan, kerosen (bensin, minyak tanah), cairan amnion, benda asing.

C.  KLASIFIKASI
Pneumonia digolongkan berdasarkan anatomi:
1.    Pneumonia lobaris à radang paru-paru yang mengenai sebagian besar/seluruh lobus paru-paru.
2.    Pneumonia lobularis (bronchopneumonia) à radang pada paru-paru yang mengenai satu/beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate.
3.   Pneumonia interstitialis (bronkhiolitis) à radang pada dinding alveoli (interstitium) dan peribronkhial dan jaringan interlobular.

Pneumonia infeksius berdasarkan etiologi:
1.    Bakteria : Diplococcus pneumoniae, Pneumococcus, Streptococcus hemolyticus, Streptococcus aureus. Hemophilus influenzae, Bacillus Friedlander, Mycobacterium tuberculosis.
2.    Virus: Respiratory syncytial virus, virus influenza, adenovirus, virus sitomegalik.
3.    Mycoplasma pneumoniae
4.    Jamur : Histoplasma capsulatum, Cryptococcus neoformans, Blastomyces dermatitides, Coccidioides immitis, Aspergillus species, Candida albicans.
5.    Aspirasi : makanan, kerosen (bensin, minyak tanah), cairan amnion, benda asing.
6.    Pneumonia hipostatik.
7.    Sindrom Loeffler

D.  CARA PENULARAN
Pneumonia ditularkan melalui percikan air ludah. Air ludah bisa berasal dari anak atau orang dewasa sehat yang membawa organisme penyebab pneumonia itu dalam saluran pernafasan mereka. Bisa juga tertular dari lendir hidung atau tenggorokan orang yang sedang sakit. Penular biasanya lebih sering dari dari orang serumah, teman sepermainan, atau teman di sekolah. Faktor risiko penularan makin besar ketika bayi atau balita menderita kekurangan gizi dan tidak mendapatkan ASI. Disamping itu tidak mendapatkan imunisasi, kurang vitamin A, bayi terpapar asap rokok, asap dapur dan polusi lingkungan juga meningkatkan faktor risiko menderita pneumonia.
Bayi dan balita bisa dilindungi dari pneumonia lewat imunisasi DPT, campak dan pneumokokus.

E.   PATOFISIOLOGI
Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya.

Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi imun didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut, partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus.

Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus Epstein-Barr, virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata.
Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus, mikoplasma, dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis.

F.   MANIFESTASI KLINIS
·      Biasanya didahului infeksi saluran pernafasan bagian atas. Suhu dapat naik secara mendadak (38 – 40 ºC), dapat disertai kejang (karena demam tinggi).
·      Batuk, mula-mula kering  (non produktif) sampai produktif.
·      Nafas : sesak, pernafasan cepat dangkal,
·      Penggunaan otot bantu pernafasan, retraksi interkosta, cuping hidung kadang-kadang terdapat nasal discharge (ingus).
·      Suara nafas : lemah, mendengkur, Rales (ronki), Wheezing.
·      Frekuensi napas :
o         Umur 1 - 5 tahun 40 x/mnt atau lebih.
o         Umur 2 bln-1 tahun 50 x/mnt atau lebih.
o         Umur < 2 bulan 60 x/mnt.
·      Nadi cepat dan bersambung.
·      Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk.
·      Kadang-kadang terasa nyeri kepala dan abdomen.
·      Kadang-kadang muntah dan diare, anoreksia dan perut kembung.
·      Mulut, hidung dan kuku biasanya sianosis.
·      Malaise, gelisah, cepat lelah.
·      Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar.
·      Pemeriksaan laboratorium = lekositosis.
 
G.  PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.    Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial); dapat juga
menyatakan abses)
2.    Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada.
3.    Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
4.    Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan.
5.    Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis
6.    Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi
7.    Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing.

H.  KOMPLIKASI
Bila tidak ditangani secara tepat maka kemungkinan akan terjadi komplikasi sebagai berikut :
1.    Otitis media akut (OMA) à terjadi bila tidak diobati, maka sputum yang berlebihan akan masuk ke dalam tuba eustachius, sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah dan mengakibatkan hampa udara, kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan timbul efusi.
2.    Efusi pleura.
3.    Emfisema.
4.    Meningitis.
5.    Abses otak.
6.    Endokarditis.
7.    Osteomielitis.
 
I.     PENATALAKSANAAN
Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal
itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya :
·      Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus.
·      Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus
·      Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma.
·      Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda.
·      Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia.
·      Bila terjadi gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup.

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A.  PENGKAJIAN
1.    Identitas
· Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa.
· Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar.
· Sering terjadi pada bayiØ & anak
· Banyak < 3 tahun
· Kematian terbanyak bayi < 2 bl.

2.    Riwayat Kesehatan
a.    Keluhan Utama
Sesak napas.
b.    Riwayat Keperawatan Sekarang
Didahului oleh infeksi saluran pernapasan atas selama beberapa hari,Ø kemudian mendadak timbul panas tinggi, sakit kepala / dada ( anak besar ) kadang-kadang pada anak kecil dan bayi dapat timbul kejang, distensi addomen dan kaku kuduk. Timbul batuk, sesak, nafsu makan menurun.
Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atauØ batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure).
c.    Riwayat Keperawatan Sebelumnya
Anak sering menderita penyakit saluran pernapasan atas.
Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia.
Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis klien.
d.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Tempat tinggal: Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar

3.    Pemeriksaan Fisik :
a.    Data Fokus
·      Inspeksi :
Adanya PCH - Adanya sesak napas, dyspnea,
Sianosis sirkumoral - Distensi abdomen
Batuk : Non produktif Sampai produktif. Dan nyeri dada
·      Palpasi :
Fremitus raba meningkat disisi yang sakit
Hati kemungkin membesar
·      Perkusi :  Suara redup pada paru yang sakit
·      Auskultasi : Rankhi halus, Rankhi basah, Tachicardia.

b.    Body System
·      Sistem Pulmonal
Subyektif : sesak nafas, dada tertekan, cengeng
Obyektif : Pernafasan cuping hidung, hiperventilasi, batuk (produktif/ nonproduktif), sputum banyak, penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan diafragma dan perut meningkat, Laju pernafasan meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru,
·      Sistem Cardiovaskuler
Subyektif : sakit kepala
Obyektif : Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas darah menurun
·      Sistem Neurosensori
Subyektif : gelisah, penurunan kesadaran, kejang
Obyektif : GCS menurun, refleks menurun/normal, letargi
·      Sistem genitourinaria
Subyektif : -
Obyektif : produksi urine menurun/normal,
·      Sistem digestif
Subyektif : mual, kadang muntah
Obyektif : konsistensi feses normal/diare.
·      Sistem Musculoskeletal
Subyektif : lemah, cepat lelah
Obyektif : tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan.
·      Sistem Integumen
Subyektif : -
Obyektif : kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder), banyak keringat, suhu kulit meningkat, kemerahan

Data dasar pengkajian pasien :
·      Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
·      Sirkulasi
Gejala : riwayat adanya
Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat
·      Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus
Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia (malnutrisi)
·      Neurosensori
Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
Tanda : perusakan mental (bingung)
·      Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgia.
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan).






·      Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
Tanda :
o     Sputum: Merah Muda, Berkarat
o     Perpusi: Pekak Datar Area Yang Konsolidasi
o     Premikus: Taksil Dan Vocal Bertahap Meningkat Dengan Konsolidasi
o     Bunyi Nafas Menurun
o     Warna: Pucat/Sianosis Bibir Dan Kuku
·      Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar
·      Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari
Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah.

4.    Faktor Psikososial/Perkembangan
·      Usia, tingkat perkembangan.
·      Toleransi/kemampuan memahami tindakan.
·      Koping.
·      Pengalaman berpisah dengan keluarga/orang tua.
·      Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya.

5.    Pengetahuan Keluarga, Psikososial
·      Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit bronchopneumonia.
·      Pengalaman keluarga dalam menangani penyakit saluran pernafasan.
·      Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya.
·      Koping keluarga.
·      Tingkat kecemasan.



6.    Pemeriksaan Penunjang
Studi Laboratorik :
·      Hb : menurun/normal
·      Analisa Gas Darah : acidosis respiratorik, penurunan kadar oksigen darah, kadar karbon darah meningkat/normal
·      Elektrolit : Natrium/kalsium menurun/normal.

B.  DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.
2.    Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.
3.    Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.
4.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.
5.    Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
6.    Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.
7.    Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.
8.    Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.

C.  INTERVENSI
1.    Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.
Tujuan : Jalan nafas efektif, ventilasi paru adekuat dan tidak ada penumpukan secret.
Rencana tindakan :
1)      Monitor status respiratori setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan status pernafasan dan bunyi nafas abnormal.
2)      Lakukan perkusi, vibrasi dan postural drainage setiap 4 – 6 jam,
3)      Beri therapy oksigen sesuai program.
4)      Bantu membatukkan sekresi/pengisapan lender.
5)      Beri posisi yang nyaman yang memudahkan pasien bernafas.
6)      Ciptakan lingkungan yang nyaman sehingga pasien dapat tidur tenang.
7)      Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernafasan.
8)      Beri minum yang cukup.

9)      Sediakan sputum untuk kultur/test sensitifitas.
10)  Kelola pemberian antibiotic dan obat lain sesuai program.

2.    Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.
Tujuan : Pasien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenasi jaringan secara adekuat.
Rencana Tindakan :
1)      Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda sianosis setiap 2 jam.
2)      Beri posisi fowler/semi fowler.
3)      Beri oksigen sesuai program.
4)      Monitor analisa gas darah.
5)      Ciptakan lingkungan yang tenang dan kenyamanan pasien.
6)      Cegah terjadinya kelelahan pada pasien.

3.    Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.
Tujuan : Pasien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal.
Rencana Tindakan :
1)      Catat intake dan out put cairan. Anjurkan ibu untuk tetaap memberi cairan peroral serta hindari susu yang kental/minum yang dingin agar merangsang batuk.
2)      Monitor keseimbangan cairan à membrane mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran menurun, tanda-tyanda vital.
3)      Pertahankan keakuratan tetesan infuse sesuai program.
4)      Lakukan oral hygiene.

4.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.
Tujuan : Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kondisi.
Rencana Tindakan :
1)      Kaji toleransi fisik pasien.
2)      Bantu pasien dalam aktifitas dari kegiatan sehari-hari.
3)      Sediakan permainan yang sesuai usia pasien dengan aktivitas yang tidak mengeluarkan energi banyak agar sesuai aktifitas dengan kondisinya.
4)      Beri O2 sesuai program.
5)      Beri pemenuhan kebutuhan energi.

5.    Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
Tujuan : Pasien akan memperlihatkan sesak dan keluhan nyeri berkurang, dapat batuk efektif dan suhu normal.
Rencana Tindakan :
1)      Cek suhu setiap 4 jam, jika suhu naik beri kompres dingin.
2)      Kelola pemberian antipiretik dan anlgesik serta antibiotic sesuai program.
3)      Bantu pasien pada posisi yang nyaman baginya.
4)      Bantu menekan dada pakai bantal saat batuk.
5)      Usahakan pasien dapat istirahat/tidur yang cukup.

6.    Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.
Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal.
Rencana Tindakan :
1)      Observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam.
2)      Beri kompres dingin.
3)      Kelola pemberian antipiretik dan antibiotic.
4)      Beri minum peroral secara hati-hati, monitor keakuratan tetesan infuse.

7.    Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.
Tujuan : Anak dapat beraktifitas secara normal dan orang tua tahu tahap-tahap yang harus diambil bila infeksi terjadi lagi.
Rencana Tindakan :
1)      Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang perawatan anak dengan bronchopneumonia.
2)      Bantu orang tua untuk mengembangkan rencana asuhan di rumah ; keseimbangan diit, istirahat dan aktifitas yang sesuai.
3)      Tekankan perlunya melindungi anak kontak dengan anak lain sampai dengan status RR kembali normal.
4)      Ajarkan pemberian antibiotic sesuai program.
5)      Ajarkan cara mendeteksi kambuhnya penyakit.
6)      Beritahu tempat yang harus dihubungi bila kambuh.
7)      Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.

8.    Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.
Tujuan : Kecemasan teratasi.
Rencana Tindakan :
1)      Kaji tingkat kecemasan anak.
2)      Fasilitasi rasa aman dengan cara ibu berperan serta merawat anaknya.
3)      Dorong ibu untuk selalu mensupport anaknya dengan cara ibu selalu berada di dekat anaknya.
4)      Jelaskan dengan bahasa sederhana tentang tindakan yang dilakukan à tujuan, manfaat, bagaimana dia merasakannya.
5)      Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.

D.  IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
1.    Prinsip Implementasi
·      Observasi status pernafasan seperti bunyi nafas dan frekuensi setiap 2 jam, lakukan fisioterapi dada setiap 4 – 6 jam dan lakukan pengeluaran secret melalui batuk atau pengisapan, beri O2 sesuai program
·      Observasi status hidrasi untuk mengetahui keseimbangan intake dan out put
·      Monitor suhu tubuh
·      Tingkatkan istirahat pasien dan aktifitas disesuaikan dengan kondisi pasien
·      Perlu partisipasi orang tua dalam merawat anaknya di RS.
·      Beri pengetahuan pada orang tua tentang bagaimana merawat anaknya dengan bronchopneumonia.

2.    Evaluasi
Hasil evaluasi yang ingin dicapai :
1. Jalan nafas efektif, fungsi pernafasan baik.
2. Analisa gas darah normal.



DAFTAR PUSTAKA


Astuti, Widya Harwina. 2010. Asuhan Keperawatan Anak dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: TIM
Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 1, EGC, Jakarta.
Doengoes Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan. Edisi 3. EGC. Jakarta.
Ngastiyah. (1997). Perawatan Anak Sakit. EGC. Jakarta.
Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine, Patofisiologi, buku-2, Edisi 4, EGC, Jakarta.
Suparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. EGC. Jakarta
Suriadi, SKp, MSN. 2006. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: Sagung Seto.
Tim Penyusun. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 3. Volume II, 2001, FKUI.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar